Baca Kumpulan Cerpen Menarik Hanya Di Sini
Another Story In Halloween Night

Another Story In Halloween Night

November 24, 2020adminCerpen0 744x
AuthorRifky Aris
Genre: Horor
Publish: 23 Jan 2021


Malam 31 Oktober. Langit berwarna kelabu, halaman-halaman rumah diterangi cahaya redup berwarna jingga oranye. Cahaya tersebut berasal dari sebuah labu yang telah di ukir. Jack O Lantern. Berada di depan halaman setiap rumah, seperti penjaga yang mengawasi gerak-gerik siapapun yang melewatinya dengan seringainya yang meyeramkan. Terkadang ia bergantung di dahan pohon. Sesekali bergoyang kedepan ke belakang, tetapi terkadang terdiam kaku. Namun, seringainya tetap jelas terlihat.

Anna mematut-matut bayangannya di depan cermin, dia merasa takut sendiri dengan bayangannya. Dia memakai kostum penyihir untuk halloween tahun ini. Wajahnya di cat hijau. “Wah, kamu memakai kostum penyihir untuk tahun ini ya, sayang?” Mama masuk kamar Anna, “Iya, ma. Aku kelihatan seram banget ya ma? Sampai-sampai aku takut lihat bayanganku sendiri.” Anna bertanya kepada mamanya. “Hahaha... “ Mama tertawa, “Kamu kelihatan serammm banget, tadi aja mama hampir kaget saat masuk kamarmu. Mama kira itu penyihir beneran.” Jawab mama menggoda Anna. “Aaaaaa...!!” Ra berteriak di depan pintu kamar Anna. Wajahnya terlihat kaget. “Oi, kenapa kamu teriak-teriak? Berisik tau !!” Anna berkata kesal. “Lho, kak Anna to? Kirain penyihir beneran. Soalnya mirip banget kayak penyihir, mukanya juga. Haha... “ Ra mengejek Anna. “Mukaku kayak penyihir? Enak aja, muka cantik kayak Katy Pery gini masa disamain sama penyihir. Ih, enggak banget.” Anna berkata narsis sambil menyibak rambutnya. “Kamu tuh yang udah kayak zombie beneran. Dari ujung rambut sampe ujung kaki mirip zombie banget. Ketularan virus zombie dari mana tuh?” Anna balas mengejek. Sebelum pertengakaran kedua kakak beradik ini berlanjut lebih heboh, mama melerai mereka berdua. “Ehhh, sudah-sudah jangan bertengakar terus. Kostum kalian berdua bagus kok. Ayo cepat kita keluar, nanti peremen-permennya habis keduluan teman-temanmu.” Mama mengajak mereka keluar.
Di luar, suasana terasa menyenangkan karena banyak anak-anak memakai kostum aneh dan lucu meneriakkan “Trick or treat” di setiap rumah, hiasan halloween yang lucu-lucu dan tentu saja ada banyak permen dan coklat. Tetapi suasana juga menyeramkan karena labu-labu Jack O Lantern membuat bayangan menyeringai mengerikan. Ditambah lagi langit malam yang hitam kelabu dan hembusan angin malam yang dingin, menambah suasana menyeramkan malam halloween kali ini. Anna dan Ra bergabung bersama teman-temannya untuk mengunjungi rumah-rumah tetangga. Mereka meneriakkan “Trick or treat” di setiap rumah dan mendapatkan banyak permen dan coklat. Ra pulang lebih dulu karena dia telah mengantuk dan jam telah menunjukkan jam 9 malam “Kak, aku pulang dulu ya, aku udah ngantuk.” Kata Ra sambil menguap. “Iya enggak papa kok. Hati-hati ya kalau pulang.” Jawab Anna. “Iya, kak”. Anna dan teman-temannya yang lain masih mengunjungi rumah-rumah tetangga. Setelah mereka puas dan keranjang mereka penuh berisi permen dan coklat, akhirnya mereka pulang ke rumah masing-masing.
.....
Saat mereka pulang, jam telah menunjukkan pukul 11 malam. Karena rumah Anna yang paling jauh, Anna berjalan sendirian ke rumahnya. Saat Anna berjalan pulang. Anna mendengar lolongan anjing berkali-kali. Langit malam tampak hitam kelabu. Suasana sepi karena hampir tengah malam. Angin malam berhembus pelan membuat bulu kuduk berdiri. Dan labu-labu Jack O Lantern menyeringai mengerikan ke arah Anna. Membuat Anna ketakutan. Anna melihat percikan kilat di langit malam. Sepertinya akan turun hujan. Anna mempercepat langkahnya, agar tidak kehujanan dan karena dia merasa takut. Anna merasa ada yang mengikutinya dari belakang. Anna menengok ke belakang. Tidak ada siapapun di sana. Sepi. Rumah-rumah tampak kosong dari luar. Seperti tidak berpenghuni. Anna pun melanjutkan berjalan. Perasaan Anna tetap tidak enak, dia tetap merasa ada yang mengikutinya.
Dia menoleh ke belakang sekali lagi. Dan Anna melihatnya. Seorang pria berjalan mendekati Anna. Wajahnya sama sekali tidak terlihat. Dia membawa sebuah lentera di tangan kanannya. Lentera yang terbuat dari labu, cekung, dengan lilin di dalamnya. Perlahan-lahan sinar purnama menerangi wajahnya. Wajahnya putih. Pucat lebih tepatnya. Seperti mayat hidup. Jalannya terseok-seok. Seperti zombie. Matanya merah menyala. Tatapannya menakutkan. Dan wajahnya sangat menyeramkan. Anna membalikkan badan dan berlari secepat mungkin. Pria tersebut mengejar Anna. Dia mengacung-acungkan sebuah parang di tangan kirinya.
Rumah Anna masih jauh jaraknya. Sekarang sudah mulai gerimis. Anna butuh tempat untuk berteduh. Anna melihat ada sebuah rumah yang pintunya terbuka. Anna masuk ke dalam rumah tersebut. Masih ada sisa-sisa makan malam di meja makan. Saat Anna melihat ke halaman belakang rumah tersebut, ada mayat satu keluarga bergeletakan dengan sekujur tubuh dipenuhi darah dan sayatan-sayatan. Darah menggenang di sekitar tubuh mayat-mayat itu. Bau amis darah menguar dari halaman belakang tersebut. Pemandangan yang sangat mengejutkan dan mengerikan. “Aaaaaa...!!” Anna berteriak kencang sekali. Dia berlari keluar dari rumah itu. Di jalan tidak jauh dari rumah itu ada pria itu yang terus mengikuti Anna. Dia menyeringai lebar mengerikan. Anna berlari lagi, tidak peduli dengan hujan yang membasahi kostumnya. Berlari terus dan terus. Tetapi secepat apa dia berlari pria itu tetap berada di belakanganya. Anna merasah sangat capek, nafasnya mulai tidak teratur. Dia melihat sebuah rumah lagi. Dari dalam cahayanya terang. “Mungkin ada orang di dalam rumah itu. Aku bisa berteduh, meminta pertolongan dan sedikit air minum.” Batin Anna. Dia mengetuk pintu rumah itu, “tok tok tok”. Dari dalam terlihat bayangan perempuan berjalan hendak membukakan pintu. Saat pintu tersebut terbuka, terlihat sosok perempuan tinggi bergaun putih panjang yang lusuh. Perempuan itu membawa sesuatu di tangan kanannya. Dan saat Anna melihat kepalanya, Anna terkejut. Perempuan itu tidak memiliki kepala. Dan ternyata sesuatu di tangannya itu adalah kepalanya. Kepala perempuan tersebut berputar menghadap Anna dan menyunggingkan sebuah senyum yang mengerikan. Anna sangat kaget melihatnya. Suaranya tercekat tak bisa berteriak. Anna langsung pingsan di depan rumah tersebut.

Cahaya redup lampu bohlam 5 watt di atas kepala Anna menyilaukan matanya. Anna terbaring di atas dipan keras. Badannya terasa sakit semua. Hujan di luar deras dan sesekali kilat menyambar. Dia melihat sekelilingnya. Suasana dalam ruangan ini temaram dan berbau apak. Seperti rumah yang telah lama tidak dihuni. “Haloo, ada orang disini?” Anna memanggil. Anna menunggu, tidak ada jawaban. Anna memanggil lagi, kali ini lebih keras “Halooo, ada orang disini?” tetap tidak ada jawaban. Lalu Anna melihat sekeliling. Anna baru menyadari kalau di ruangan itu banyak dipan. Di atasnya ada orang-orang yang ditutupi kain putih. “Mungkinkah itu semua mayat orang-orang yang dibunuh pria itu?” batin Anna. Brakk... sreettt... terdengar suara pintu dibanting terbuka dan sesuatu yang diseret. Ada seorang pria masuk dengan menyeret parangnya yang panjang. Itu dia, pria yang mengikuti Anna dari tadi. Anna mencoba memberanikan diri membentak pria itu “Heh, siapa kamu, kenapa kamu ngikutin aku?!”. Bodo amat bentak-bentak ke orang tua. Lagian orang tua apa bukan kan aku enggak tahu, pikir Anna. Pria itu mendekat ke Anna dengan menyeret parangnya. Anna berlari mengitari ruangan, menjauh dari pria tersebut. “Waaaaa... Pergi kamu!! Sana sana sana, hus hus!!” Anna berteriak histeris dan menggulingkan dipan di depannya. “Waaaa... tolonggggg, ada orang gak sih? Tolonggg!!” Anna berteriak minta tolong.
Anna tidak bisa berlari lagi, dia berada di pojok ruangan. Pria itu terus mendekat dan mendekat. Anna ketakutan setengah mati. Tubuhnya tidak bisa digerakkan, kaku dan suaranya tercekat. Pria itu semakin dekat dan dekat. Dan saat pria itu berada tepat di depan Anna, pria itu tanpa ragu-ragu mengayunkan parangnya tepat ke laher Anna. Crattt, darah terciprat ke dinding ruangan itu. Bau anyir darah menguar. Tubuh Anna jatuh tergeletak di lantai. Dengan kepalanya di sampingnya. Wajah di kepala Anna menyiratkan ketakutan yang sangat amat. “Huahahahaha.....” Terdengar suara tawa mengerikan membahana ke seluruh ruangan.

Malam Halloween tahun ini, pria tersebut datang lagi mencari teman untuk menemaninya di muka bumi ini. Dia tidak bisa masuk surga karena banyak melakukan dosa. Dan di neraka juga tidak diterima karena telah mengelabuhi setan. Dia tidak bisa pergi kemana-mana. Dia akhirnya meminta sedikit bara api kepada setan lalu memahat sebuah labu dan memasukkan bara api itu kedalamnya. Sejak saat itu, Jack selalu bergentayangan setiap malam dengan lentera labunya. Mengetuk setiap pintu rumah dan mengikuti orang yang sedang berjalan sendirian di malam 31 Oktober untuk dijadikan temannya.
0 COMMENTS
Be The First To Comment Here

Leave a Reply

Name:


Comment: