Baca Kumpulan Cerpen Menarik Hanya Di Sini
Friendship

Friendship

November 17, 2020adminCerpen0 696x
Author Putri
Genre Teenfiction
Publish 23 Jan 2021

Suara bell pintu kafe berdenting bersamaan dengan kedatangan seorang pria bertubuh jangkung memasuki kafe. Kulitnya yang tampak tak terlalu gelap serasi dengan balutan hoodie putih yang ia kenakan. 

Aku mendengkus kesal. Ini sudah kesekian kalinya dia ngaret saat diajak bertemu untuk mengerjakan tugas kelompok. Coba saja saat diajak main ps bersama, kurasa kecepatan pesawat juga lewat sama kedatangan nya. 

"Gue kira lo ga dateng" ucapku sinis. Dia terkekeh pelan menampilkan gigi kelincinya. 

"Sorry, babe. Mandi dulu tadi." 

Ah sudah kuduga. Anak ini masih saja kalo mandi melebihi lamanya anak gadis berendam. Saking sukanya sama aroma wewangian dari sabun membuatnya enggan untuk lekas keluar bath up. 

Terkadang terlintas dipikiranku apakah pada saat berendam di bath up, dia juga sekalian tidur siang. 

Aku menghela napas pelan. 

"Lo ketik semua yang udah gue rangkum di buku ini. Gegara kelamaan nunggu lo, gue jadi dah selesai duluan" Daniel mengedipkan sebelah matanya seolah mengatakan oke lewat kedipan matanya. 

"Ntar yang presentasi siapa?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop, sedang jari tangannya sibuk menari diatas keyboard. 

"Yang pasti bukan gue." ucapku santai sembari menyeruput coffee latte. Aku mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kafe. Beruntung suasana kafe tengah sepi pengunjung. Membuatku lebih nyaman. 

"Terus gue gitu?!"

Aku mengendikkan bahu seolah tak peduli. 

"Lo kan tau, gue ga terlalu suka jadi pusat perhatian. Sedang lo kebalikannya. Jadi lo aja."

Daniel menghela napas panjang. Lalu mengalihkan pandangannya dari laptop dan menatapku datar. 
"Mau sampe kapan?! Kalo lo ga mencoba buat ngelawan rasa takut lo ya lo ga bakal berkembang"

"Kan ada lo" kataku sambil menatap datar balik. 

"Terserah lo deh. Heran gua, abang kembaran lo nak famous sedang lo kebalikannya. Introvert, terlalu menutup diri dan bodo amatan sama sekitar"

Aku hanya bisa menunduk. Selalu saja begini. Padahal aku dengan Sakha bukanlah orang yang sama. Oke, kuakui kami memang kembar. Tapi bukan berarti sifatku juga mesti kembar dengannya, bukan? 

Sakha, kembaranku itu dia memang humble dan loyal ke semua orang. Sifatnya persis dengan Ibu. Sedang aku? Sifat gen dingin, cuek dan bodo amat Ayah, semua menurun padaku. Hanya saja, aku tak terlalu nyaman berada di keramaian, menjadi pusat perhatian dan demam panggung. 

"Maaf" katanya

Aku berdeham mengiyakan. 

"Maaf. Harusnya gue ga ngebandingin lo sama Sakha. Gue tau lo sama dia emang ga sama. Gue cuma ga pengen lo terus-terusan bergantung sama gue gini. Gue takut kalo seandainya gue gaada disamping lo, lo ga bisa ngelakuin semuanya sendiri. Gue ga selalu bisa disamping lo terus." jelasnya. Tatapannya masih terkunci kearahku. Kedua tangannya terulur memegang kedua bahuku. 

"Gue tau. Maaf, Niel. Selama ini gue selalu ngerepotin lo" ucapku pelan. 

"Enggak, Rin. Lo ga ngerepotin sama sekali. Gue cuma mau lo berubah buat ga terlalu menutup diri." 

Aku diam dan tak berniat membalas ucapannya. Dia kembali melanjutkan tugas mengetiknya. Sampai sejam berlalu tanpa ada perbincangan sedikitpun diantara kami. 

Daniel mengeluarkan flashdisk dari saku hoodienya, menyalin hasil tugas kelompok kami ke flashdisknya. Tak lama setelahnya, ia mematikan laptop dan merapikan buku tadi. 

"Ayo, gue anter pulang. Tinggal gue edit nanti dirumah." ujarnya sembari bangkit dari kursi dan meregangkan otot. 

Aku memasukkan buku dan laptop diatas meja. Tak lupa juga memasukkan kotak pensil ke tas ranselku. 

Setelah aku selesai membereskan barang-barang ku, ia berjalan mendahului menuju pintu keluar. Sedang aku mengekor di belakangnya. 

Ia berjalan ke parkiran mobil lalu membukakan pintu mobilnya untukku. Sebenarnya tradisi membukakan pintu mobil ini bukan karena dia romantis atau tidaknya. Melainkan karena ia terlalu menghormati wanita layaknya ia menghormati ibunya. Seringkali aku mengingatkan nya untuk tak memperlakukan semua wanita seperti itu. Mereka bisa salah mengartikan semua itu. 

"Rin, jangan marah sama gue" katanya sembari menahan pergelangan tanganku saat aku hendak membuka pintu mobil. 

Aku tersenyum tipis. 
"Makasih udah nganterin pulang" 

Ia menatapku lama, lalu melepaskan pergelangan tanganku. Begitu keluar, aku langsung membuka pintu gerbang dan masuk kedalam tanpa menunggunya menjalankan mobil. 


*

Sejak malam itu, aku berusaha sebisa mungkin untuk tak terlalu berurusan dengannya. Aku bahkan tak berniat membalas chat nya, mengabaikan puluhan kali voice call nya dan menyibukkan diri untuk sekadar membaca buku di perpustakaan atau mendownload anime, drakor maupun film horor lalu kutonton dirumah. Sakha beberapa kali mengeluh tatkala Daniel terus-terusan menelponnya, menyuruhku mengangkat voice call nya. 

Seperti sekarang, aku memilih beberapa buku yang sekiranya bisa kubaca lalu mencari meja kosong dipojokan untuk mendownload beberapa episode one piece yang belum sempat kutonton. Kedua telingaku kusumpal dengan earphone lalu mulai membaca huruf demi huruf dari buku yang kuambil tadi. 

Saking fokusnya mataku menatap goresan tinta pada buku, hingga tak menyadari keberadaan seseorang yang juga tengah membaca buku sambil sesekali menoleh kearahku. 

"Gue baru kali ini liat lo di perpus" 

Aku berusaha tak menghiraukannya. Berpura-pura seolah tak mendengarnya dan tetap fokus menatap buku yang kubaca. 

Sesaat kemudian dia yang merasa diabaikan pun kini menarik salah satu earphone di telingaku dan memasang ditelinganya. 

Aku sontak menatapnya tajam. Dia cuma memejamkan matanya sembari mengangguk-anggukkan kepala menyesuaikan irama musik. 

"Lo juga suka lagunya Juice WRLD, ya?" tanyanya. 

"Ga"

"Trus kok dari tadi muter lagu Juice WRLD? Empty, robbery itu lagunya Juice WRLD" katanya. 

Aku buru-buru menarik earphone dari telinganya kemudian membereskan buku dan laptop, hingga tangannya menahan pergelangan tanganku. 

"Mau kemana? Disini aja. Gue ga bakal ganggu. Lagipula download an lo juga belum kelar" Aku menarik pergelangan tanganku namun ia malah mengeratkan pegangannya. 

"Gue beneran ga bakal ganggu lo." ujarnya seolah meyakinkan ku untuk tak beranjak pergi. 

Aku cuma bisa menghela napas pasrah. Lalu kembali duduk. Ia dengan segera melepaskan pegangannya pada tanganku. 

"Gue Nando. Vernando Yudistira fakultas teknik. Lo?" 

"Oh" 

Dia mendengus mendengar tanggapanku. 

"Oh aja? Nama lo?" tanyanya. 

Aku memutar bola mata jengah. Padahal semenit lalu dia bilang ga bakal ganggu. Nyatanya? 

"Hei? Kok ga dijawab sih? Bisu, ya?"

"Tadi katanya lo ga bakal ganggu?!" kataku kesal. 

"Iya, tapi jawab dulu dong. Kan gue dah ngenalin diri. Sekarang gantian lo." desaknya. 

"Gue ga nyuruh lo buat ngenalin diri." 

Secara tiba-tiba ia menarik buku di tanganku. 

"Jawab dulu baru gue balikin bukunya"

Aku berdecak kesal. Merepotkan. 

"Rawinda" kataku pada akhirnya. 

"Rawinda doang? Yang lengkap dong. Kan gue nyebutinnya sampe nama lengkap sekaligus fakultasnya" 

"Rawinda Intanon Marin. FEB" 

Ia terkekeh sedetik kemudian tersenyum sampe kedua matanya tak terlihat dan garis matanya membentuk bulan sabit. 

"Oke salam kenal, Rara" katanya sambil mengembalikan buku yang tadi kubaca.
0 COMMENTS
Be The First To Comment Here

Leave a Reply

Name:


Comment: